KRETERIA DALAM MENENTUKAN PILIHAN
Dengan adanya keputusan MK tentang penentuan caleg berdasarkan suara terbanyak mengakibatkan banyak caleg yang semula tenang tenang saja ikut menjadi khawatir, terutama para caleg kelas “jenggot” yang berakar diatas.
Bagi caleg yang memang mengakar di grass root tentu tidak ada masalah karena dari awal mereka memang sudah menyatu dengan konstituennya.
Dampak dari kondisi seperti ini timbul penomena banyaknya caleg yang sangat rajin turun kebawah sepertinya berserah diri kepada masyarakat dimana hal tsb. sebelumnya sama sekali tak pernah mereka lakukan bahkan kenalpun tidak.
Mereka berusaha mengambil hati masyarakat hanya demi pilcaleg mendatang, padahal mengambil hati masyarakat tidak bisa dilakukan secara instan (to win the heart of the people perlu bukti dalam kurun waktu tertentu, bukan secara singkat dan pragmatis).
Yang paling aneh adalah caleg yang dapilnya bukan ditempat dia bermasyarakat selama ini, bagaimana mungkin masyarakat tahu prilaku serta sifat sang caleg selama ini karena itu merupakan kreteria utama untuk menjatuhkan sebuah pilihan.
Usaha memasang baliho serta slogan slogan didaerah yang bukan lingkungan habitat sicaleg bisa jadi berdampak kontra produktif menimbulkan ketersinggungan masyarakat lingkungannya. Begitu juga dengan adanya caleg AMPIBI (anak, menantu, ponakan, ipar, besan, istri) justru menimbulkan kesan sifat hedonis sipepimpin partai, yang memberi kesan dimasyarakat mereka bukan berusaha membesarkan partainya tetapi justru membesarkan keluarganya dengan memperalat partai.
Menurut seorang pengamat politik dari LIPI semua sepak terjang pembangunan image itu bisa terjadi karena para caleg melakukannya hanya untuk dirinya sendiri. Ia menyebutnya sebagai gejala politik narsis, karena ternyata menurut riset yang ada sampai saat ini 80% pemilih tidak pernah tahu siapa calonnya.
Pada akhirnya, para politisi tersebut bak para pemuas diri.
Mereka bikin spanduk atau baliho sendiri, dilihat sendiri, difoto sendiri dan jangan-jangan yang memilih hanya dirinya sendiri. Sikap memuja diri sendiri, kagum terhadap dirinya, dan merasa besar sendiri inilah yang sering disebut dengan narsism. Atau dalam basa gaul disebut narsis. Padahal kebaikan itu muncul karena adanya karya nyata. Bukan akibat dari sekedar publikasi.
Kalau anda bingung menentukan pilihan karena diantara caleg didapil anda tidak anda kenal rekam jejaknya selama ini barangkali anda sependapat dengan saya untuk menjatuhkan pilihan pada caleg yang paling sedikit publikasi dari partai yang saya yakini dapat mengantarkan kesejahteraan masyarakat. Bisa jadi itulah caleg yang berhati ikhlas.
Denpasar, 24 Maret 2009
Kamis, 26 Maret 2009
Selasa, 03 Maret 2009
PUTRA PAHLAWAN
Ketika kita mendengar kata “pahlawan” kita sudah pasti terbayang sosok patriotik nan pemberani yang dalam kiprah perjuangannya mampu “melampaui dirinya” dalam pengertian ia tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga melakukan sesuatu / berjuang untuk orang lain seperti apa yang dilakukan oleh para pejuang kita. Mereka paham betul bahwa apa yang mereka lakukan hasilnya tidak akan bisa mereka nikmati sendiri namun akan dinikmati oleh generasi penerusnya.
Sebagai generasi penerus bangsa wajarlah kita angkat topi memberikan penghormatan kepada para pahlawan dan pejuang karena tanpa beliau barangkali kemerdekaan seperti saat ini mustahil bisa kita nikmati. Bukan hanya pahlawan saja yang mesti mendapat perhatian khusus, namun keluarganyapun selayaknya mendapat perlakuan yang layak (namun tidak perlu memanjakan apalagi mengkultus berlebihan), termasuk janda pahlawan (tentunya janda yang tidak kawin lagi dengan orang lain yang secara yuridis formal maupun secara adat secara otomatis menghilangkan status janda pahlawannya).
Namun ketika saya menemui seorang anak pahlawan yang namanya I Gst Pt Daris dari desa Taman Abiansemal, bayangan perlakuan khusus terhadap seorang putra pahlawan seperti tsb. diatas menjadi sirna. Betapa tidak, ketika ayahnya gugur ditembak NICA di pangkung Tegallingkuh keluarga ini terusir dari rumahnya di br. Raketan dan terpaksa harus memondok di tegal Jabajero. Saya tidak tahu kenapa mereka harus tercabut dari rumah asalnya, namun yang jelas saat itu tak ada penguasa yang mau dan berani memihak kepada keluarga penyingkiran (pejuang).
Ketika saya mencoba menemuinya saya mesti berjalan kaki sekitar 300 mtr. melalui sebuah gang sempit yang becek (sepertinya lintasan sapi menuju persawahan) dimana akhirnya saya tiba disebuah pondok kecil yang sangat sederhana beratapkan daun kelapa dengan lantai tanah. Saya bersyukur saat itu dapat bertemu dengannya karena dia baru saja datang dari pondoknya di br. Tektek Peguyangan ditempat mana dia melakukan pekerjaannya sebagai petani penggarap tanah orang lain yang memaksanya untuk memondok disitu untuk bisa sekedar menghemat biaya transpotasi.
Saya panggil dia dengan nama kecilnya disaat kami pernah bersama tinggal dirumahnya saat kami nyingkir bersama seluruh keluarga saya setelah rumah saya di Punggul dibakar dan diratakan NICA. Dia memperhatikan saya dengan saksama lalu manjawab : “Ngurah ya”, saya jawab “ya” dia sepertinya tak bisa lagi meneruskan kata katanya mungkin karena terharu kami masih bisa bertemu lagi setelah lebih dari 62 tahun berpisah. Kenangan masa lalu saat bakar ketela dan mencari jangkrik bersama terbayang lagi dipikiran saya.
Barangkali kalau saja arwah orang tuanya bisa menampakkan diri dia akan menangis melihat kenyataan ini. Siapa yang perduli ? Bukankah dia juga anak seorang pahlawan ? Apa peran YKP ? Bagaimana pemerintah ?
Denpasar, 3 Maret 2009
Ketika kita mendengar kata “pahlawan” kita sudah pasti terbayang sosok patriotik nan pemberani yang dalam kiprah perjuangannya mampu “melampaui dirinya” dalam pengertian ia tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga melakukan sesuatu / berjuang untuk orang lain seperti apa yang dilakukan oleh para pejuang kita. Mereka paham betul bahwa apa yang mereka lakukan hasilnya tidak akan bisa mereka nikmati sendiri namun akan dinikmati oleh generasi penerusnya.
Sebagai generasi penerus bangsa wajarlah kita angkat topi memberikan penghormatan kepada para pahlawan dan pejuang karena tanpa beliau barangkali kemerdekaan seperti saat ini mustahil bisa kita nikmati. Bukan hanya pahlawan saja yang mesti mendapat perhatian khusus, namun keluarganyapun selayaknya mendapat perlakuan yang layak (namun tidak perlu memanjakan apalagi mengkultus berlebihan), termasuk janda pahlawan (tentunya janda yang tidak kawin lagi dengan orang lain yang secara yuridis formal maupun secara adat secara otomatis menghilangkan status janda pahlawannya).
Namun ketika saya menemui seorang anak pahlawan yang namanya I Gst Pt Daris dari desa Taman Abiansemal, bayangan perlakuan khusus terhadap seorang putra pahlawan seperti tsb. diatas menjadi sirna. Betapa tidak, ketika ayahnya gugur ditembak NICA di pangkung Tegallingkuh keluarga ini terusir dari rumahnya di br. Raketan dan terpaksa harus memondok di tegal Jabajero. Saya tidak tahu kenapa mereka harus tercabut dari rumah asalnya, namun yang jelas saat itu tak ada penguasa yang mau dan berani memihak kepada keluarga penyingkiran (pejuang).
Ketika saya mencoba menemuinya saya mesti berjalan kaki sekitar 300 mtr. melalui sebuah gang sempit yang becek (sepertinya lintasan sapi menuju persawahan) dimana akhirnya saya tiba disebuah pondok kecil yang sangat sederhana beratapkan daun kelapa dengan lantai tanah. Saya bersyukur saat itu dapat bertemu dengannya karena dia baru saja datang dari pondoknya di br. Tektek Peguyangan ditempat mana dia melakukan pekerjaannya sebagai petani penggarap tanah orang lain yang memaksanya untuk memondok disitu untuk bisa sekedar menghemat biaya transpotasi.
Saya panggil dia dengan nama kecilnya disaat kami pernah bersama tinggal dirumahnya saat kami nyingkir bersama seluruh keluarga saya setelah rumah saya di Punggul dibakar dan diratakan NICA. Dia memperhatikan saya dengan saksama lalu manjawab : “Ngurah ya”, saya jawab “ya” dia sepertinya tak bisa lagi meneruskan kata katanya mungkin karena terharu kami masih bisa bertemu lagi setelah lebih dari 62 tahun berpisah. Kenangan masa lalu saat bakar ketela dan mencari jangkrik bersama terbayang lagi dipikiran saya.
Barangkali kalau saja arwah orang tuanya bisa menampakkan diri dia akan menangis melihat kenyataan ini. Siapa yang perduli ? Bukankah dia juga anak seorang pahlawan ? Apa peran YKP ? Bagaimana pemerintah ?
Denpasar, 3 Maret 2009
Langganan:
Komentar (Atom)
